Archive for Januari 2013

CERPEN HOROR

                                                 TELEPHONE MISTERIUS


Aku berjalan menapaki lorong gang yang gelap tanpa cahaya. Rintik hujan masih berjatuhan menemani langkahku yang semakin melemah. Dingin. Sepi. Dan pengap. Sampah menggunung di kanan dan kiri jalan ini. Aroma busuk menyengat hidungku dan sukses membuatku mual hendak muntah. Ku percepat langkah. Sejurus kemudian aku pun keluar dari gang menjijikan di kota ini. Kulirik arloji. 23:12 Wib. Rupanya sudah larut malam dan suasana di jalan ini pun entah mengapa tidak seperti biasanya, sepi dan lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas membuat suasana jalan sedikit tidak menakutkan. Rintik hujan yang manja semakin menderu bumi. Angin malam serasa membuat tulangku membeku. Aku kedingingan. Hampir dua puluh menit aku menunggu Taxi di trotoar ini, namun belum juga menunjukkan hasil. Mengurangi waktu, aku pun memutuskan untuk berjalan beberapa langkah dan berharap ada Taxi di depan sana. Ya, semoga saja.
Deng…ting…ting…deng…ting..ting. Terdengar nada satu pesan menderit dari ponsel di tasku. Ku buka reseleting tas, ku keluarkan HP dan ku baca pesan itu.
“ Kamu dimana, sayang…?” Pengirim Ferdi. Aku tidak membalas, hanya memasukkan HP itu kembali ke dalam selimutnya. Selang beberapa saat kembali terdengar HP ku menderit. Masih pesan dari Ferdi. Entah mengapa, air mata ini jatuh dengan sendirinya. Tidak mungkin lagi aku menghubunginya. Sama saja aku akan menyakiti perasaan sahabatku nanti, Maya. Biarlah aku yang mengalah, asal Ferdi bahagia. Lagi pula, Maya memang lebih pantas untuknya. Tuhan, aku tidak bisa melihat sahabatku hatinya terluka, aku ingin membahagiakan dia di saat ia sedang mengalami kepedihan karena kehilangan kedua orang tuannya. Maya, aku merelakan Ferdi untukmu. Semoga kalian bahagia.
***
Di kamar. Aku duduk menatap jendela kaca yang mengembun. Menikmati secangkir cokelat panas dengan hati tersayat lalu air mata menderai sebagai pelengkapnya. Jujur, aku belum bisa melihat kenyataan. Semua seperti mimpi. Ketika Maya datang padaku, menangis dan berbicara kalau dia sangat mencintai Ferdi dan ingin memilikinya, betapa hancur hatiku. Betapa remuk jantungku.
‘ Rin, aku mencintai Ferdi. Hanya dia yang mengerti aku saat ini. Apa menurutmu itu wajar? Aku butuh nasehatmu, Rin. Aku sangat mencintainya…?’ desis Maya sambil menangis dan mengadukan semua keluh kesahnya padaku. Sontak aku juga menangis. Bersedih karena Maya tidak atau mungkin belum tahu, kalau aku dan Ferdi sebenarnya sudah resmi berpacaran sebulan yang lalu. Dan rencanya, akhir Januari 2013 nanti kami akan membicarakan masalah hubungan ini kepada kedua belak pihak keluarga, lebih jauh lagi. Tapi dia, maksudku Maya tidak mungkin harus tahu semuanya. Pasti hatinya akan hancur berkeping-keping. Selama ini dia memang sangat mencintai Ferdi, tapi Ferdi bilang dia lebih mencintaiku. Lalu, aku harus bagaimana? Berbicara jujur pada Maya dan melihatnya kembali masuk rumah sakit. Atau mendiamkan semuanya, lalu aku yang akan sakit?
Aku pusing. Kembali ku teguk sruput demi sruput cokelat panas ini. Mataku mengawang menatap langit yang gelap. Lampu mercury di seberang jalan jelas menunjukkan riangnya titik-titik gerimis turun dari langit. Suasana syahdu terasa hambar di mataku. Aku pilu. Tanpa sengaja, aku melihat kamar ini meredup dan gelap. Entah aku yang kalap. Bau amis seketika datang memenuhi ruangan ini. Rintihan dan tengisan terdengar sesekali membahana di kamarku. Sontak aku terperanjat. Aku takut. Aku keluar kamar mencari ayah dan ibu. Juga adikku, Hasan. Tapi, mereka tidak ada. Kemana perginya? Bukankah aku pulang Ayah yang membukakan pintu? Dan cokelat panas ini buatan Ibu? Serta Hasan tadi meminjam buku kuliahku? Tapi, kemana mereka saat ini? Aneh.
***
Tulililililit. Telefon di ruang tamu berdering. Aku melangkah mendekati. Siapa tahu Ayah, atau Ibu atau juga Hasan. Ku angkat.
“Halo..?” sapaku lebih dulu.
“…. “
“Halo, ini dengan siapa ya..?”
Hening.
“Halooo…?!” kedua alisku pun menyatu. Aneh. Siapa yang malam-malam begini iseng ngerjain orang. Setelah ku letakkan telefon, aku melangkah hendak kembali ke dalam kamar. Melanjutkan meratapi diri.
Tulililililit. Untuk kedua kalinya, telefon di ruang tamu berdering. Ku urungkan niatku melangkah, ku angkat telefon sialan itu.
“ Halo… ini siapa?” lirihku mencoba bersabar.
Masih diam.
“ Maaf, ini dengan siapa? Dan ada perlu apa?” tanyaku lagi.
“ …. “
“ Ini kalian yah – pikiranku adalah Ayah, Ibu dan Hasan mengerjaiku – yang iseng?”
Hanya suara deru angin di sebuah ruangan.
“ Nggak lucu. Aku nggak takut. Terus saja menggangguku, sampai kalian puas!” tutupku lalu melangkah ke dalam kamar. Aku berbaring di atas kasur. Mataku terpejam melekat. Dan entah sejak kapan, leher ini rasanya sakit. Nyeri sekali. Saat aku pegang, ada darah di tanganku. Astaga?! Kenapa dengan leherku?
***
Di ruang keluarga, aku mengambil kota P3K. Ku oles leher yang ku duga di gigit serangga dengan obat merah dan minyak angin aroma therapy. Setelah itu aku istirahat di depan TV. Berbaring menunggu mereka datang. Agaknya Ayah, Ibu dan Hasan keluar tanpa ada pamit padaku.
Tulilililit. Mataku terbuka setelah sesaat mendengar suara telefon itu. Aku tidak memperdulikannya. Aku yakin, mereka yang mengerjaiku. Aku tidak sedang tidak mau di ganggu. Ku rasakan leher ini semakin sakit.
Tulilililit.
“ Dih! Awas saja kalau itu memang mereka…” aku mendekati telefon itu.
“ Halooo, ini dengan siapa? Kenapa dari tadi nggak bicara? Haloooo?” lirihku menyerah. Suasana di seberang sana, diam dan hening. Tidak ada yang menyahut. Aku menggelengkan kepala.
“ Maaf ya, kalau nggak mau bicara jangan telefon. Mengganggu!”
Praaakkk.
Ku hempas telefon itu, lalu kembali berbaring di atas sofa.
Tulilililit. Aku melirik sesaat. Kemudian memejamkan mata. Tidak peduli.
Tulilililit. Telingaku seolah melebar mendengar suara itu. Lagi-lagi aku tidak peduli.
Tulilililit. Suara telefon itu terdengar memaksa. Mataku terpejam tapi telingaku seakan di rajam. Penging, berdenging dan sakit menusuk gendang telinga. Telefon setan!
“Halo! Eh, kalau mau telefon ya bicara, jangan seperti ini. Ada perlu apa? Dan mau bicara dengan siapa? Jangan diam aja. Setan!” aku kalap. Lepas kendali. Emosi ini menderu bercampur luka di hati. Di saat hatiku kecewa, seakan ada orang yang ingin menambah luka. Sayup terdengar suara lirih di seberang sana. Perlahan suara itu semakin jelas terdengar. Aku terperanjat. Ku amati baik-baik suara itu. Ya, seorang wanita menangis dengan rintihan penuh penyesalan. Si-siapa dia?
“Halooo…? ini siapa? ke-kenapa menangis?” ucapku lirih.
“Huhuuuu…to-tooolooonnng….”
“Tolong?! Tolong apa?” meski tidak tahu siapa orang itu. Aku mencoba berempati atau sekedar berbasa-basi.
“Aku menyesal…” isaknya menangis.
“Menyesal? Kenapa…? Apa yang telah kamu perbuat..?”
“Huhuhuuuuu….to-toloooong. Saaakiiiiiit…..”
Mendengar suara itu, aku seketika terkesiap seolah turut merasakan kepedihan yang wanita itu alami. Dia sangat menderita sekali sepertinya. Tapi kenapa dia? Siapa? Di mana?
“Maaf, ini sudah malam. Aku tidak bisa keluar, jadi, aku tidak bisa membantu..”
“Aku ada di kamarmu. Sekarang…!”
Praaaanggg!
Sontak aku terkejut. Terdengar suara gaduh di kamarku. Segera aku berlari kelantai dua. Membuka pintu kamarku perlahan. Dari balik pintu, sebelumnya aku mendengar suara wanita menjerit kesakitan. Hatiku berdegup kencang. Nadiku seakan putus. Darah ini mengalir deras.
Kreeeekk. Pintu ini pun terbuka.
“Astagahh?!” sontak aku menjerit. Seorang wanita kejang-kejang menahan sakit karena lehernya tergantung di atas plapon kamar. Darah bercecer dimana-mana. Bau amis menyengat. Dari tangan kirinya, aku melihat pergelangan itu nyaris terputus. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah. Ternyata, wanita itu adalah diriku

bagi bagi char dari gemscool nih

ID: wolesneng
PW:A1602999

ID:azkia1515
PW:3muach666

sisa nya lupa sory y itu PB ma LOST saga 2 2nya ada PB ma lost saga

       catatan:
                 jangan pernah di hack

membuat cerpen


Nama   :           ICKBAL PEBRI SANI                            PELAJARAN     :           B.INDONESIA


KELAS :           8E                                                        TUGAS             :           MEMBUAT CERPEN




KESEDIHAN DAN HARAPAN

Ada seorang perempuan mungil sedang berjalan menelusuri sepanjang jalan berdebu. Ia kelihatan tua, tapi raut wajahnya selalu tersenyum, memancarkan cahaya terang bagaikan seorang gadis periang.

Perempuan tua itu kelihatan kurus kerempeng, yang kemudian tiba-tiba berhenti melangkah di suatu tempat tak berpenghuni, ia menunduk ke bawah, dan menatap ke arah bentuk menyerupai sosok tubuh, yang sedang duduk berjongkok, bungkuk merunduk terbungkus debu. Ia tak bisa mengenali lagi raut wajahnya. Ini mengingatkan dirinya pada kain sutra abu-abu menyelimuti tubuh manusia. Perempuan mungil dan kecil itu lalu menghampiri serta menyapanya dengan suara lembut, "Siapakah anda?"

Pancaran mata menatap hampa itu seperti tak bernyawa, dan tampak lelah, "Aku? Kesedihan." Bisiknya terbata-bata, suaranya lembut berirama sendu hampir tak terdengar.

"Oh, kesedihan," Jawab perempuan mungil itu dengan rasa penuh bahagia, seakan-akan mendengar ucapan dari seorang teman akrab yang telah dikenal lama.

"Anda kenal saya?" Tanyanya curiga.

"Tentu saja aku tahu kau siapa, bukankah kau telah membimbing sebagian jalan hidupku?

"Ya, tapi.." Kesedihan agak tergagap, "Mengapa kau tak tinggalkan saja aku sendiri disini?"

"Mengapa aku harus meninggalkanmu, sayangku? Bukankah kau telah mengetahuinya, bagaimana nasib hidup setiap pengungsi yang diasingkan? Sebenarnya aku ingin bertanya ke kau, mengapa kau tampaknya begitu putus asa?" Tanya perempuan tua itu dengan penuh perhatian, lalu ditatapnya mata kesedihan. Wajah yang dulu teduh dan tenang itu kini berurai air mata kesedihan.

"Aku … Aku sedih," jawab sosok berselimut abu itu, suaranya bergetar menahan pedihnya Kesedihan.
Perempuan tua itu lalu duduk di sampingnya, "Kau kelihatan begitu sedih," katanya sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan penuh perhatian dan pengertian, "Ceritakanlah apa yang membuat kau begitu mendalam sedihnya."

Kesedihan menghela napas dalam-dalam. Terbersit dibenaknya, apakah kali ini memang ada orang yang benar-benar ingin mendengarkan kisah keinginannya? begitu seringnya orang yang ditemuinya menjadi harapan keinginan dirinya.

"Oh, kau tahu itu,.." ia mulai hati-hati bercerita, "tak ada seorangpun yang menginginkanku. Ini sudah suratan hidupku, hanya sejenak hadir diantara orang-orang yang ingin denganku. jika aku datang menghampirinya, mereka itu seketika merasa takut, serta menghindarinya seperti aku ini wabah penyakit menular… ".

Kesedihan itu menelan air ludahnya, kemudian meneruskan tuturkatanya: "Mereka itu telah menciptakan kata-kata, yang di ucapkan untuk orang-orang yang ingin mereka asingkan, katanya: "Ah, hidup ini adalah sebuah pesta besar", dan dengan kepalsuan tawa riangnya, menyebabkan perut mereka jadi kejang-kejang atau menderita gangguan pernapasan, katanya, "kekesalan membuat situasi semakin parah"

Namun kenyataannya mereka diserang sakit jantung, lalu katanya "Anda harus tetap bersama-sama", tetapi malah di bahu dan punggung mereka terasa semakin sakit dan nyeri, kemudian katanya lagi, "Ah..mengeluh dan menangis hanya orang yang lemah, akhirnya mereka harus menahan air mata, yang membuat kepala mereka merasa hampir meledak karena terjangkit penyakit migraine akut. Atau mereka malah di bikin mati rasa, menjadi pecandu alkohol atau obat-obatan, sehingga mereka tidak lagi merasakan aku."

"Oh ya, orang-orang ini memang sering kutemui" Jawab perempuan tua itu dengan penuh keyakinan akan penjelasan Kesedihan.

Gejolak perasaan Kesedihan seperti semakin tenggelam dalam ketidak berdayaanya, "Padahal aku ini hanya ingin membantu orang lain. Bila aku sangat dekat dengannya, maka mereka itu bertemu dalam membangun rumah dirinya, dengan begitu mereka mampu menyembuhkan luka-lukanya sendiri. Sedih memiliki kulit sangat tipis, dan luka itu rasanya pedih serta menyakitkan. Penderitaan akan berlangsung lama, bila penyembuhan luka parahnya tidak ditangani sampai tuntas,"

Sejenak Kesedihan memandang Perempuan Tua itu, dan menatapnya sedih dengan penuh kekecewaan,
"Ugh..padahal siapa yang mau kubantu, yang tidak menangis akan menjadi nangis sampai mengeluarkan airmata, dengan begitu lukanya benar-benar bisa sembuh. Tapi bagi orang-orang yang tidak ingin kubantu, sebaliknya, malah mentertawakanku dengan bekas luka mereka yang masih memberkas, atau bahkan mereka penjarakan aku dengan lapisan baju besi masa lalunya, penuh dengan penderitaan sangat pahit rasanya…" Kesedihan tiba-tiba terdiam.

Suasana terasa menjadi hening dan mencekam, tak lama kemudian terdengar suara isak tangis Kesedihan. Menangis memang awalnya lemah, namun bisa menguat sampai akhirnya putus asa. Perempuan tua itu lantas mendekatkan tubuh sosok Kesedihan, dirangkulnya dalam pelukannya, lalu dihiburnya Kesedihan dengan kelembutan belaian sentuhannya, serasa dalam jiwa getaran keinginan dari tumpuhan harapannya.
"Menangislah, sedih," bisiknya penuh kasih sayang. "Ketenangan akan memberimu kekuatan baru, mulai saát ini kau tak akan sendirian. Aku akan memandumu sampai putus asamu tidak lagi berkuasa dalam dirimu."
Kesedihan tiba-tiba berhenti menangis. Ia duduk dan memandang teman barunya dengan heran, "Tapi ….. tapi .. siapakah kau?"

"Aku?" Tanyanya kembali pada Kesedihan, tiba tiba rambut Perempuan mungil dan tua itu kelihatan semakin memutih, yang kemudian ia tersenyum cerah bagaikan gadis muda yang periang, lalu jawabnya ceria "Aku, adalah Harapan."
“THE AND”

bagi bagi char game online

char lost saga
ID:whebhe21
PW:A08891351503
pangkat:diamond

Char Elsword Indonesia
ID:embal21
PW:muka21

Char Modoo Marble
sama kaya char elsword


Catatan:
             Jangan di hack y

- Copyright © ALL IN ONE - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -